Save the Children Luncurkan Dana Berbasis Bitcoin untuk Inovasi Bantuan Kemanusiaan
Organisasi kemanusiaan global Save the Children telah mengumumkan peluncuran dana inovatif yang memanfaatkan aset kripto—khususnya Bitcoin—untuk mendukung program bantuan darurat dan pembangunan jangka panjang. Langkah ini menandai salah satu upaya paling progresif oleh lembaga nirlaba dalam mengintegrasikan teknologi blockchain ke dalam operasi kemanusiaan.
Mengapa Bitcoin Dipilih sebagai Sarana Pendanaan?
Penggunaan Bitcoin dalam konteks kemanusiaan bukan sekadar tren, melainkan respons terhadap tantangan nyata dalam distribusi bantuan global. Transaksi lintas batas sering kali lambat, mahal, dan rentan terhadap gangguan politik atau infrastruktur perbankan yang lemah.
- Kecepatan transfer: Donasi dalam bentuk Bitcoin dapat dikirim ke mana saja di dunia dalam hitungan menit.
- Biaya rendah: Tanpa perantara bank, biaya transaksi bisa turun hingga 90% dibanding metode tradisional.
- Transparansi: Setiap transaksi tercatat di blockchain publik, memungkinkan pelacakan alur dana secara real-time.
- Aksesibilitas: Penerima bantuan di daerah terpencil bisa menerima donasi meski tidak memiliki rekening bank.
“Kami percaya teknologi harus melayani manusia—bukan sebaliknya. Dengan Bitcoin, kami membuka pintu bagi donor muda, tech-savvy, sekaligus mempercepat bantuan ke anak-anak yang paling rentan,” ujar juru bicara Save the Children.
Bagaimana Dana Bitcoin Ini Dioperasikan?
Struktur dan Pengelolaan Risiko
Dana ini tidak menyimpan seluruh aset dalam bentuk Bitcoin. Save the Children bekerja sama dengan mitra keuangan terpercaya untuk mengonversi sebagian besar donasi kripto menjadi mata uang fiat (seperti USD atau EUR) segera setelah diterima. Hal ini meminimalkan eksposur terhadap volatilitas harga.
Penggunaan Dana di Lapangan
Dana yang telah dikonversi digunakan untuk:
- Penyediaan makanan, air bersih, dan obat-obatan darurat
- Pembangunan sekolah sementara di zona konflik
- Pelatihan tenaga kesehatan lokal
- Sistem identitas digital bagi pengungsi tanpa dokumen

Tantangan dan Kritik yang Perlu Diperhatikan
Meski inovatif, pendekatan berbasis kripto tidak luput dari kritik. Beberapa pihak khawatir tentang jejak karbon penambangan Bitcoin, potensi pencucian uang, serta kesenjangan digital di kalangan penerima manfaat.
| Keuntungan | Risiko |
|---|---|
| Transfer instan ke zona krisis | Volatilitas nilai aset |
| Partisipasi donor global tanpa batas geografis | Ketergantungan pada infrastruktur internet |
| Auditabilitas publik melalui blockchain | Regulasi kripto yang berbeda-beda di tiap negara |
Namun, Save the Children menegaskan bahwa mereka menerapkan protokol ketat: semua donasi kripto diverifikasi melalui sistem KYC (Know Your Customer), dan hanya menerima dari dompet terdaftar yang memenuhi standar kepatuhan internasional.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah donasi Bitcoin ke Save the Children bisa diklaim sebagai pengurang pajak?
Di banyak negara, termasuk Indonesia dan Amerika Serikat, donasi aset kripto ke organisasi amal terdaftar diakui sebagai sumbangan amal dan dapat dikurangkan dari pajak penghasilan, asalkan memenuhi syarat hukum setempat.
Bagaimana cara saya menyumbang Bitcoin ke program ini?
Donatur dapat mengunjungi halaman resmi Save the Children yang menyediakan alamat dompet Bitcoin khusus. Pastikan untuk menggunakan dompet pribadi (bukan exchange) dan menyimpan bukti transaksi untuk keperluan administrasi.
Apa yang terjadi jika nilai Bitcoin turun drastis setelah donasi masuk?
Save the Children segera mengonversi donasi Bitcoin menjadi mata uang stabil seperti USD dalam waktu 24–48 jam, sehingga fluktuasi jangka pendek tidak memengaruhi nilai bantuan yang disalurkan.
Apakah penerima bantuan perlu memiliki dompet kripto?
Tidak. Dana dikonversi ke bentuk fiat atau barang fisik sebelum didistribusikan. Penerima tidak berinteraksi langsung dengan aset kripto.
Apakah inisiatif ini sudah diuji coba sebelumnya?
Ya. Sejak 2021, Save the Children telah menjalankan pilot project kecil di Filipina dan Ukraina, menyalurkan lebih dari 50 BTC (setara ~$2 juta saat itu) untuk bantuan pascabencana dan krisis pengungsian.