Bitcoin Turun di Bawah $90.000: Aksi Ambil Untung dan Kekhawatiran Pasar
BTC-0.43%
Bitcoin (BTC) sempat jatuh di bawah level psikologis $90.000 meskipun Federal Reserve AS baru saja memangkas suku bunga sebesar 0,25%. Penurunan ini mengejutkan banyak pihak, mengingat pelonggaran moneter biasanya dianggap positif bagi aset berisiko seperti kripto.
Faktor-Faktor yang Memicu Penurunan Harga Bitcoin
Penurunan harga BTC tidak terjadi dalam ruang hampa. Sejumlah dinamika pasar dan kebijakan makroekonomi turut mendorong aksi jual besar-besaran:
- Ekspektasi sudah terhargai: Peluang pemotongan suku bunga Fed sebesar 95% telah dimasukkan ke dalam harga jauh sebelum pengumuman resmi, sehingga tidak ada “kejutan positif” yang mendorong kenaikan lebih lanjut.
- Ambil untung oleh investor besar: Setelah pengumuman Fed tentang pembelian T-bill, banyak pemain institusional dan whale memilih mengamankan keuntungan mereka.
- Pernyataan hati-hati dari Jerome Powell: Ketua Fed menyoroti kelemahan di pasar tenaga kerja dan risiko inflasi yang masih menggantung, meredam optimisme pasar.
- Proyeksi kebijakan moneter ketat: Fed hanya memperkirakan satu kali pemotongan suku bunga lagi hingga akhir 2026, menandakan sikap hawkish jangka panjang.
- Dampak eksternal dari saham: Laporan laba Oracle yang mengecewakan memicu koreksi di pasar saham, yang kemudian menjalar ke aset kripto termasuk Bitcoin.
Apakah Ini Awal dari Bear Market?
Analis dari Bull Theory menilai bahwa penurunan ini bukanlah tanda awal bear market, melainkan overreaction jangka pendek terhadap sentimen campuran. Mereka menekankan bahwa langkah-langkah likuiditas Fed—termasuk pembelian T-bill dan operasi pasar terbuka—masih akan memberikan dukungan signifikan bagi aset kripto.
“Likuiditas adalah oksigen bagi Bitcoin. Selama Fed terus menyuntikkan dana ke sistem keuangan, arah jangka panjang tetap bullish,” ujar salah satu analis senior.
Meski demikian, proyeksi untuk tahun 2025 terlihat kurang menggembirakan karena potensi perlambatan pertumbuhan global dan kebijakan moneter yang lebih ketat. Namun, tahun 2026 diprediksi menjadi titik balik positif berkat akumulasi likuiditas dan adopsi institusional yang semakin matang.
Kondisi Terkini dan Pemulihan Harga
Saat ini, Bitcoin telah pulih di atas $91.100. Meski demikian, harga tersebut masih 26% di bawah rekor tertinggi sepanjang masa ($126.000) yang dicatat pada Oktober tahun ini. Volatilitas tinggi tetap menjadi ciri khas pasar kripto, terutama di tengah ketidakpastian kebijakan moneter global.

Gambar di atas menunjukkan pergerakan harga Bitcoin dalam konteks makroekonomi terkini, termasuk respons terhadap keputusan Fed dan aliran modal institusional.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Mengapa harga Bitcoin turun meski suku bunga diturunkan?
Karena pasar sudah memperkirakan pemotongan suku bunga jauh sebelumnya, sehingga tidak ada efek kejutan positif. Selain itu, pernyataan dovish Fed dikombinasikan dengan proyeksi kebijakan ketat ke depan justru memicu aksi ambil untung.
Apakah penurunan ini tanda awal bear market?
Tidak menurut mayoritas analis. Koreksi ini dianggap sebagai konsolidasi wajar setelah rally kuat, bukan perubahan tren jangka panjang. Likuiditas global yang tinggi tetap mendukung kenaikan harga di masa depan.
Berapa persen penurunan Bitcoin dari ATH-nya?
Bitcoin saat ini berada sekitar 26% di bawah all-time high $126.000 yang dicapai pada Oktober 2024.
Bagaimana dampak kebijakan Fed terhadap kripto secara umum?
Kebijakan moneter longgar (suku bunga rendah + likuiditas tinggi) cenderung mendorong investor ke aset berisiko seperti kripto. Sebaliknya, kebijakan ketat dapat memicu tekanan jual jangka pendek.
Kapan Bitcoin diprediksi kembali mencapai ATH?
Beberapa proyeksi optimis memperkirakan pemulihan ATH pada paruh kedua 2026, didorong oleh akumulasi likuiditas Fed, adopsi ETF spot, dan siklus halving berikutnya.