Debut Twenty One Capital di NYSE Kurang Mengesankan Meski Pegang Lebih dari 43 Ribu BTC
Twenty One Capital resmi melantai di Bursa Efek New York (NYSE) dengan kode saham XXI, menyusul merger dengan Cantor Equity Partners. Perusahaan ini kini menjadi salah satu pemegang Bitcoin terbesar di dunia, dengan aset mencakup 43.514 BTC senilai lebih dari US$4 miliar. Namun, debut perdagangan sahamnya justru mengecewakan investor karena tekanan jual yang signifikan.

Kinerja Saham XXI di Hari Pertama Perdagangan
Saham Twenty One Capital diperdagangkan sekitar US$11 per lembar pada hari pertama pencatatan, jauh di bawah harga sebelum merger yang berkisar US$14. Penurunan ini mencerminkan kehati-hatian pasar terhadap model bisnis perusahaan yang sangat bergantung pada volatilitas Bitcoin.
- Penurunan harga saham menunjukkan skeptisisme investor terhadap valuasi berbasis aset kripto.
- Volume perdagangan tinggi mengindikasikan aksi ambil untung cepat oleh pemegang awal.
- Pergerakan harga saham XXI sangat sensitif terhadap fluktuasi harga BTC harian.
Strategi Bisnis dan Posisi di Pasar Aset Digital
Twenty One Capital tidak hanya bertindak sebagai perusahaan treasury seperti MicroStrategy (MSTR), tetapi juga berencana membangun infrastruktur keuangan berbasis Bitcoin serta produk edukasi. Pendekatan ini menjadi pembeda utama dalam lanskap perusahaan pemegang BTC skala besar.
Dukungan dari Pemain Besar Industri
Perusahaan ini didukung oleh tiga entitas ternama: Tether (penerbit USDT), Bitfinex (bursa kripto global), dan SoftBank (konglomerat teknologi Jepang). Dukungan ini memberikan legitimasi operasional sekaligus akses ke jaringan strategis di ekosistem digital asset.
Perbandingan dengan Pemegang BTC Lain
| Perusahaan | Strategi Utama | Nilai BTC (Estimasi) |
|---|---|---|
| MicroStrategy (MSTR) | Pure treasury – akumulasi BTC sebagai cadangan kas | Lebih dari US$10 miliar |
| MARA Holdings | Penambangan Bitcoin + treasury | Sekitar US$5–6 miliar |
| Twenty One Capital (XXI) | Treasury + infrastruktur & edukasi Bitcoin | Lebih dari US$4 miliar |
Tantangan di Tengah Ketidakpastian Makroekonomi
Perusahaan treasury aset digital kini menghadapi tantangan ganda: volatilitas harga kripto dan ketatnya kondisi likuiditas global. Investor tidak lagi puas hanya dengan kepemilikan BTC—mereka menuntut growth drivers yang jelas dan model pendapatan berkelanjutan.
“Di lingkungan suku bunga tinggi seperti sekarang, sekadar menyimpan Bitcoin tidak cukup. Pasar ingin melihat bagaimana perusahaan menghasilkan nilai tambah dari aset tersebut,” ujar analis kripto dari firma riset Chainalysis.
Twenty One Capital berusaha menjawab kritik ini dengan rencana pengembangan layanan utilitas—seperti dompet institusional, alat manajemen risiko, dan platform edukasi—yang bisa menghasilkan pendapatan berulang di luar apresiasi harga BTC.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa itu Twenty One Capital?
Twenty One Capital adalah perusahaan aset digital yang baru melantai di NYSE dengan kode saham XXI, hasil merger dengan Cantor Equity Partners, dan saat ini memegang lebih dari 43.000 BTC.
Mengapa saham XXI turun di hari pertama perdagangan?
Saham XXI turun karena tekanan jual investor yang khawatir tentang ketergantungan valuasi pada harga Bitcoin yang fluktuatif, ditambah kurangnya bukti pendapatan operasional yang stabil.
Siapa pemodal utama di balik Twenty One Capital?
Perusahaan ini didukung oleh Tether, Bitfinex, dan SoftBank—tiga entitas besar di bidang teknologi keuangan dan aset digital.
Apa bedanya XXI dengan MicroStrategy (MSTR)?
Berbeda dengan MSTR yang fokus murni pada akumulasi BTC sebagai treasury, XXI berencana mengembangkan layanan infrastruktur dan edukasi berbasis Bitcoin untuk menciptakan pendapatan aktif.
Apakah Twenty One Capital termasuk pemegang BTC terbesar?
Ya, dengan 43.514 BTC, Twenty One Capital kini menjadi pemegang Bitcoin terbesar ketiga di dunia setelah MicroStrategy dan MARA Holdings Inc.